“Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” film tidak mirip sama “Titanic”

TENGGELAMNYA KAPAL VAN DER WIJCK1

TENGGELAMNYA KAPAL VAN DER WIJCK1b

“Cinta itu adalah perasaan yang mesti ada pada tiap-tiap diri manusia, ia laksana setitis embun yang turun dari langit, bersih dan suci.  Jika ia jatuh pada tanah yang subur, di sana akan tumbuh kesucian hati, keikhlasan, setia, budi pekerti yang tinggi dan lain-lain perangai terpuji.”  (best seller karya Prof. Dr. Buya Hamka yang berjudul “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk”)

jauh sebelum film 5 cm dibuat, Soraya telah merencanakan untuk menggarap film Tenggelamnya Kapal Van der Wijck (TKVDW) berdurasi 2 jam 45 menit dirilis pada 19 Desember 2013. Bahkan dua pemain dalam film 5 cm, Herjunot Ali dan Pevita Pearce, pun awalnya datang ke Soraya untuk casting film TKVDW, bukan untuk 5 cm. Tapi, Soraya memutuskan untuk memproduksi 5 cm terlebih dahulu. “Proses persiapan film TKVDW sangat lama. Observasi tempat, kostum, mengubah novel menjadi naskah, kapalnya saja dibuat tiga tahun. Semuanya memakan waktu lima tahun. Jadi ini di-pending dulu,” ujar produser sekaligus sutradara film saat dijumpai fotoaktris di kawasan Menteng, Selasa 19 November 2013. Penulis naskah adaptasi nya, Donny Dhirgantoro (Penulis film 5 cm). Film ini dipersiapkan secara matang menyajikan visualisasi yang spektakuler, cukup beralasan karena film ini diadaptasi dari novel bestsellerNYA karya Buya Hamka. “Kita ingin, penonton yang telah mengeluarkan uang untuk nonton dengan harga mahal itu ngerasa worth it dan enggak rugi selesai nonton,” ujarnya.

TENGGELAMNYA KAPAL VAN DER WIJCK15

Membutuhkan sedikitnya 600 pemain dengan 100 diantaranya harus berperawakan bule karena film ini mengambil set di zaman penjajahan Belanda era 1930-an. Proses pembuatan film ini memakan waktu hampir 5 tahun karena memang ada riset untuk melengkapi itu semua. Proses syuting dilakukan di beberapa kota seperti Padang, Medan, Batam, dan Makassar. Film yang posternya sempat di protes oleh masyarakat Minang karena dinilai tidak sesuai dengan nilai-nilai Islami.

Secara visual, kapal Van der Wijck menjadi properti yang paling utama di film ini, yang berlayar dan tenggelam sekitar tahun 1930-an dibuat semirip mungkin, merupakan satu elemen tersulit yang dirasakan produser sekaligus sutradara dalam penggarapan film ini menemukan kapal yang menyerupai kapal Van Der Wijck di tahun 1930 an. Sunil akhirnya memesan kapal tersebut dari Belanda yang memang produsen asli kapal Van Der Wijck. “Kita cari kapal yang mirip Van Der Wijck itu susah di sini. Akhirnya kita minta blueprint dari Belanda dan kita membuat kapal itu.

TENGGELAMNYA KAPAL VAN DER WIJCK2

Proses mencari kapalnya sendiri 3 tahun, proses pembuatan kapal setahun. Makanya kita agak susah produksinya,” kata Sunil. Sunil enggan menyebutkan berapa biaya yang dikeluarkan untuk membuat kapal tersebut. Semula, ia dan tim nya tidak mengetahui blueprint produksi kapal Van Der Wijck ada di Belanda. “Kita enggak tahu ada di pihak Belanda blueprint-nya. Sebelumnya ada di sini (Indonesia) tapi susah sekali dicari ke Makassar, Surabaya tetapi enggak dapat. Akhirnya ada salah satu rekan kita kontak ke Belanda, tempat pembuatan kapal. Ternyata ada dua bentuknya, kita cari yang ada di ceritanya,” paparnya.

Demi mendapatkan gambar dan nuansa seperti yang digambarkan novel aslinya, pihak Soraya Film menempuh berbagai kesulitan untuk mendapatkan barang-barang yang mewakili tahun 1930-an.

Stil FOTO

Tidak hanya itu, sang sutradara juga mencari laut yang tidak memiliki ombak kencang karena kapal Van Der Wijck dikisahkan tenggelam bukan karena ombak besar. “Cukup kesulitan juga cari tempat untuk tenggelamkan kapal, karena disini lautnya kencang sekali. Karena Van Der Wijck itu tenggelam bukan karena cuaca tapi dalam keadaan laut tenang. Kita juga datangkan tenaga ahli dari luar untuk menampilkan efek tenggelam tanpa menggunakan animasi,” tuturnya.


Properti mobil yang berlalu lalang pun harus sama dengan yang beredar di sekitar tahun tersebut. “Kami cari kolektor,” lanjutnya. Namun, masalahnya, mobil milik kolektor itu bermasalah dengan mesin. Kru sampai mendatangkan spare part dari Jerman. Busana yang dikenakan para talent dipercaya Samuel Wattimena dikenal sebagai desainer kondang Tanah Air yang sangat mengerti tren busana di tahun itu. “Riset busana susah. Yang riset orang-orang desain. Beliau (samuel Wattimena) sangat mengerti. Adat padang juga ngerti, songket, baju nikah dan sebagainya,” tegasnya.

Stil FOTO 2

TKVDW boleh jadi film yang ditunggu-tunggu di 2013 ini, terutama bagi yang sudah membaca novelnya. Soraya Intercine Films sejak 2009 melakukan proses produksi, dan sempat mengalami revisi naskah beberapa kali. Bahkan Produser melakukan riset ke Amsterdam untuk membuat sebuah kapal Van Der Wijck agar mirip aselinya.
 
Kisah cinta Zainudin dan Hayati, melukiskan suatu kisah cinta murni di antara sepasang remaja, dilandasi keikhlasan dan kesucian jiwa, yang patut dijadikan tamsil. Cerita melatar-belakangi peraturan-peraturan adat pusaka yang kokoh kuat, dalam suatu negeri, bersuku sangat melembaga, berkaum kerabat serta berninik-mamak. Kisah tahun 1930an, dari tanah kelahirannya Makasar, Zainuddin (Herjunot Ali) berlayar menuju tanah kelahiran ayahnya di Batipuh, Padang Panjang.

TENGGELAMNYA KAPAL VAN DER WIJCK10

Diantara keindahan ranah negeri Minangkabau ia bertemu Hayati (Pevita Pearce), gadis cantik jelita, bunga di persukuannya. Kedua muda mudi itu jatuh cinta. Apa daya adat dan istiadat yang kuat meruntuhkan cinta suci mereka berdua. Zainuddin hanya seorang melarat tak berbangsa, sementara Hayati perempuan Minang keturunan bangsawan.

Lamaran Zainuddin ditolak keluarga Hayati. Hayati dipaksa menikah dengan Aziz (Reza Rahadian), laki-laki kaya bangsawan yang ingin menyuntingnya. Perkawinan harta dan kecantikan mematahkan cinta suci anak manusia. Zainuddin pun memutuskan untuk berjuang, pergi dari ranah minang dan merantau ke tanah Jawa demi bangkit melawan keterpurukan cintanya. Zainudin bekerja keras membuka lembaran baru hidupnya. Sampai akhirnya ia menjadi penulis terkenal dengan karya-karya mashyur dan diterima masyarakat seluruh Nusantara.

TENGGELAMNYA KAPAL VAN DER WIJCK14

Tetapi sebuah kenyataan kembali datang kepada diri seorang Zainuddin, di tengah gelimang harta dan kemashyurannya. Dalam sebuah pertunjukan opera, Zainuddin kembali bertemu Hayati, kali ini bersama Aziz, yang sudah menjadi suaminya. Perkawinan harta dan kecantikan bertemu dengan cinta suci yang tak lekang waktu. Pada akhirnya kisah cinta Zainuddin dan Hayati menemui ujian terberatnya, dalam sebuah tragedi pelayaran kapal Van Der Wijck.

Cerita TKVDW tentang semangat juang Zainuddin, bagaimana merana dan melaratnya hidup Zainuddin setelah cintanya ditolak oleh keluarga Hayati. Kemudian beliau bangun semula dari segala kedukaan, membuka lembaran baru dalam hidupnya menjadi seorang penulis yang ternama dan berjaya. Ia menceritakan tentang kesetiaan, cinta dan kasihnya Zainuddin terhadap Hayati. Meski Hayati sudah menikah tetapi sebaik mendapat tahu tentang kesusahan yang dihadapi Hayati, lantaran suaminya yang suka berpoya-poya serta tidak bertanggung-jawab, Zainuddin terus membantu tanpa ada dendam dan benci. Sesungguhnya cinta yang suci itu akan terus mekar di dalam hati hingga ke hujung nyawa begitulah jua cinta antara Zainuddin dan Hayati”.

buku Tenggelamnya van der wijck

TKVDW adalah sebuah novel yang ditulis oleh Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal dengan nama Hamka. Novel ini mengisahkan persoalan adat yang berlaku di Minangkabau dan perbedaan latar belakang sosial yang menghalangi hubungan cinta sepasang kekasih hingga berakhir dengan kematian. Dalam novel tersebut Hamka mengkritik beberapa tradisi yang dilakukan oleh masyarakat pada saat itu terutama mengenai kimpoi paksa. Kritikus sastra Indonesia Bakri Siregar menyebut TKVDW sebagai karya terbaik Hamka, meskipun pada tahun 1962 novel ini dituding sebagai plagiasi dari karya Jean-Baptiste Alphonse Karr berjudul Sous les Tilleuls (1832). Novel yang diterbitkan pada tahun 1939, TKVDW terus mengalami cetak ulang sampai saat sekarang. Novel ini juga diterbitkan dalam bahasa Melayu sejak tahun 1963 dan telah menjadi bahan bacaan wajib bagi siswa sekolah di Indonesia dan Malaysia.

Seperti novel Hamka sebelumnya, Di Bawah Lindungan Ka’bah, TKVDW ditulis untuk mengkritik beberapa tradisi dalam adat Minang yang berlaku saat itu, seperti perlakuan terhadap orang berketurunan blasteran dan peran perempuan dalam masyarakat; hal ini dimunculkan dengan usaha Hayati menjadi istri yang sempurna biarpun Aziz tidak menghargainya. Hamka beranggapan bahwa beberapa tradisi adat tersebut tidak sesuai dengan dasar-dasar Islam ataupun akal budi yang sehat. Dalam karyanya yang lain, Hamka terus mengkritik adat.

TENGGELAMNYA KAPAL VAN DER WIJCK12

TKVDW pertama kali diterbitkan sebagai cerita bersambung dalam majalah Islam mingguan Hamka di Medan, Pedoman Masjarakat pada tahun 1938. Menurut Yunan Nasution, salah satu karyawan majalah tersebut, ketika majalah itu dikirimkan ke Kutaraja, Aceh (kini Banda Aceh), banyak pembaca yang telah menunggu di stasiun kereta api agar bisa membaca bab berikutnya secepat mungkin. Hamka juga menerima surat dari beberapa pembaca, yang beranggapan bahwa novel itu mencerminkan kehidupan mereka. Namun, beberapa orang Muslim konservatif menolak TKVDW; mereka menyatakan bahwa seorang ulama harusnya tidak mengarang cerita tentang percintaan.
Mendapat sambutan yang hangat itu, Hamka memutuskan untuk menerbitkan TKVDW sebagai novel dengan usaha penerbitan milik temannya, M. Syarkawi; dengan menggunakan penerbit swasta Hamka tidak dikenakan sensor seperti yang berlaku di Balai Pustaka. Cetakan kedua juga dengan penerbit Syarkawi. Lima cetakan berikutnya, mulai pada tahun 1951, dengan Balai Pustaka. Cetakan kedelapan pada tahun 1961, diterbitkan oleh Penerbit Nusantara di Jakarta; hingga tahun 1962, novel ini telah dicetak lebih dari 80 ribu eksemplar. Cetakan setelah itu kemudian diterbitkan oleh Bulan Bintang. Novel Hamka ini juga pernah diterbitkan di Malaysia beberapa kali.

TENGGELAMNYA KAPAL VAN DER WIJCK5

Kritikus sastra Indonesia beraliran sosialis, Bakri Siregar menyebut TKVDW sebagai karya terbaik Hamka. Kritikus lain, Maman S. Mahayana, berpendapat bahwa novel ini mempunyai karakterisasi yang baik dan penuh ketegangan; Maman beranggapan bahwa ini mungkin karena novel ini awalnya diterbitkan sebagai cerita bersambug.

Pada bulan September 1962, Abdullan S.P.—nama samaran dari Pramoedya Ananta Toer—yang memuat tulisannya ke dalam koran Bintang Timur menyebutkan bahwa novel Van der Wijck diplagiasi dari Sous les Tilleuls (1832) karya Jean-Baptiste Alphonse Karr, melalui terjemahan berbahasa Arab oleh Mustafa Lutfi al-Manfaluti; sebenarnya desas-desus plagiasi sudah lama ada. Hal ini menjadi polemik luas dalam pers Indonesia. Sebagian besar orang yang menuduh Hamka berasal dari Lekra, sebuah organisasi sastra sayap kiri yang berafiliasi dengan PKI. Sementara itu, penulis di luar sayap kiri melindungi Hamka.Beberapa kritikus menemukakan beberapa kesamaan antara dua buku tersebut, baik dari segi alur maupun teknik penceritaan.

TENGGELAMNYA KAPAL VAN DER WIJCK4

TENGGELAMNYA KAPAL VAN DER WIJCK11

Ahli dokumentasi sastra H.B. Jassin, yang membandingkan kedua karya itu dengan menggunakan terjemahan Sous les Tilleuls berbahasa Indonesia yang diberi judul Magdalena, menulis bahwa novel ini tidaklah mungkin hasil plagiasi, sebab cara Hamka mendeskripsikan tempat itu sangat mendalam dan sesuai dengan gaya bahasanya dalam tulisan sebelumnya. Jassin juga menegaskan bahwa novel TKVDW membahas masalah adat Minang, yang tidak mungkin ditemukan dalam suatu karya sastra luar. Akan tetapi, Bakri Siregar beranggapan bahwa terdapat banyak kesamaan antara Zainuddin dan Steve, serta Hayati dan Magdalena, yang menandai adanya plagiasi. Kritikus sastra asal Belanda, A. Teeuw menyatakan bahwa tanpa berpendapat kalau kesamaan yang terkandung dalam novel itu dilakukan secara sadar, memang terdapat banyak hal yang mirip di antara kedua karya itu, tetapi TKVDW sesungguhnya mempunyai tema yang murni dari Indonesia.

TENGGELAMNYA KAPAL VAN DER WIJCK16

Herjunot mengaku, TKVDW merupakan film terberatnya selama enam film yang telah dijalani sejak 2004 lalu yakni Lovely Luna. Namun masalah kuantitas, jangan dibandingkan dengan Reza Rahadian yang cukup lebih banyak dari dirinya. “Saya bukan pilih-pilih film, tetapi apa yang saya perankan harus berbeda dengan sebelumnya. Ada yang saya tawarkan ke penonton atau penikmat film, karena mereka telah membayar tiket nonton. Jadi harus merasa terpuaskan dengan akting saya yang berbeda,” katanya. “Persiapan pembuatan film ini saja sudah lima tahun lalu. Tetapi baru dibuat sekarang, karena memang ada riset untuk melengkapi itu semua dan tampil sempurna. Proses syuting dilakukan beberapa kota seperti Padang, Medan, Batam, dan Makassar,” ungkap Junot.
Tahun 2012, Pevita Pearce kembali mengambil peran menantang yang berbeda dari perannya di film-film  terdahulu. Dalam film Dilema, di salah satu segmennya berjudul Rendezvous, Pevita berperan sebagai Dian, seorang remaja biseksual yang berasal dari keluarga broken home, sempat terjerat narkoba dan beberapa kali mencoba bunuh diri. Saat mengasingkan diri ke rumah pantai keluarganya, ia bertemu dengan Rima (Wulan Guritno), seorang lesbian yang tampaknya memahami dirinya, namun justru membawa akibat yang lebih buruk bagi hidupnya.

TENGGELAMNYA KAPAL VAN DER WIJCK9

Bersama Wulan Guritno, totalitas aktingnya sebagai junkie yang memiliki konflik hidup yang kompleks dalam film ini, mendapatkan pengakuan di kancah internasional dan berhasil meraih penghargaan Best Feature Film On Detective and Law-Enforcement Themes di ajang Detective FEST Moscow 2012. “Ketika memerankan sebuah tokoh, saya berusaha fokus ke dalam diri untuk memperkuat fondasi dasar, yaitu bagaimana meleburkan diri ke dalam karakter yang dimainkan. Be in the character, live in the moment, and be believeable, itu kuncinya,” ujar anak kedua dari tiga bersaudara ini.

Pada film TKVDW Pevita Pearce mengaku sempat mau mundur dari. Artis berdarah Inggris ini merasa kesulitan memerankan tokoh Hayati, perempuan di bumi Minang di era 1930-an. “Saya sempat nggak pede. Hampir tiap hari saya nangis hingga pada H-7 saya bilang ke Pak Sunil kayaknya nggak bisa,” kata Pevita. Untungnya sang sutradara berhasil memotivasi Pevita agar dapat melanjutkan syuting hingg akhir. Pevita juga menjadikan kesuksesan buku yang menginspirasi film itu sebagai motivasi. “Aku dari kecil di Jakarta, jadi sempat culture shock gitu. Akhirnya coba untuk riset lagi. Ngobrol dengan pemeran yang orang Minang. Dia cerita tentang adat di sana.”
 ujarnya.

TENGGELAMNYA KAPAL VAN DER WIJCK8

Pevita yang kini menenggelamkan diri dalam novel sastra Indonesia klasik, karya Prof. Dr. Buya Hamka. Melibatkan skala produksi yang cukup besar, butuh waktu lima tahun untuk mempersiapkan film ini agar keaslian budaya dalam novel itu terasa hidup. Dalam perjalanan kariernya, inilah peran yang paling menarik baginya. “Saya memerankan tokoh utama, Hayati, perempuan naïf keturunan bangsawan  Minang. Karakter ini memiliki tantangan yang lebih besar daripada karakter saya di film-film sebelumnya, baik dari segi akting maupun dialeknya. Karena, di sini saya dituntut fasih melafalkan dialog dalam bahasa Minang” ujarnya, bersemangat. Peran menantang seperti inilah yang selalu membuatnya antusias. Mengaku sebagai orang yang cepat bosan dan tak ingin terjebak dalam satu jenis karakter, Pevita berusaha selektif memilih peran. Jalan cerita yang kuat, karakter unik, serta konflik yang menarik menjadi acuan baginya. Menerima tawaran bermain di film 5 cm, di mana fisiknya ditantang beradaptasi dengan berbagai kondisi alam saat mendaki Puncak Mahameru, di Malang, Jawa Timur. Bahkan, setelah merampungkan syuting selama kurang lebih 3 minggu di Gunung Semeru, Pevita sempat menginap di rumah sakit akibat gangguan pernapasan dan kelelahan “Syuting di Gunung Semeru dengan suhu udara yang tidak bisa diprediksi, terkadang sangat panas atau sangat dingin, plus medan yang begitu berat, tidak menciutkan semangat saya. Malahan ini menjadi tantangan yang harus ditaklukkan. Sungguh pengalaman yang sangat berkesan dan tak terlupakan!” ungkapnya.

TENGGELAMNYA KAPAL VAN DER WIJCK6

Poster film TKVDW menampilkan wajah 3 bintang utamanya dengan latar belakang kapal Van Der Widjk yang tenggelam dramatis. Tidak lupa latar belakang Rumah Gadang turut melengkapi di dalamnya. Sekilas, poster ini nampak dipenuhi efek visual yang agak berlebihan. Berbagai atribut cerita dalam film pun terlihat beradu walau tentu saja si kapal yang terlihat paling menonjol. Visualisasi kapal hendak tenggelam dalam poster ini bak Titanic. Kilasan dua orang berbalap kuda dan mobil klasik mungkin mengingatkan Anda pada adegan dalam The Great Gatsby.

Penggemar Buya HAMKA bersyukur, berterimakasih bahwa novel TKVDW berhasil difilmkan oleh Produser/Sutradara Sunil Soraya. Sunil membantah TKVDW mirip dengan Titanic. “Nggak ada mirip sama Titanic, nggak ada hubungannya, emang ceritanya kayak gitu, yang saya adaptasi dari novel aslinya. Kalau Titanic semua adegan diambil dalam kapal ini beda,” jelas Sunil. Sunil menambahkan awal film TKVDW ini diangkat karena cerita yang bagus dari sastrawan, budayawan dan pejuang Buya Hamka. Apalagi novel ini laris dipasaran sejak diterbitkan pada 1939 dan masih dicetak ulang sampai sekarang. “Saya suka ceritanya, untuk nyari cerita yang difilmkan sulit sekali. Novel ini pas dibaca udah berasa sangat bagus, sangat baik,” ujarnya yang penuh harap film garapanya tersebut sama larisnya dengan Novel yang di tulis oleh Buya HAMKA.(Yul Adriansyah)

Yul Adriansyah AR

About matvisual

Beauty, Peace, Honesty, Openness, Diversity. . . Fotoaktris : Music, Arts, Culture, entertainment and Lifestyle Follow your heart, your life purpose, your soul's journey - wherever it may lead for this is your life path. Magic happens when you follow your inner divinity, transforming challenges into opportunities if you but embrace with grace all that happens, accepting that all that happens- does so for a reason that enhances your spiritual evolution. Love effortlessly flows when it radiates from within - when faith is omnipresent. Be the miracle that you were born to live & share the love that you are in all you do, think, say & feel Hati adalah Sahabat sejati yang tak pernah mengingkari, membohongi pemiliknya. Kepada hati katakalah selalu apa yang terbaik bagi diri kita sendiri agar dilaksanakan fikiran bawah sadar kita, oleh karena itu janganlah engkau membohongi diri dan mengingkari hati nurani jika tak ingin menjadi insan yang merugi. Jadilah diri sendiri.

Leave a Reply